Senin, 11 April 2016

Tugas II Psikoterapi

Terapi Humanistik Eksistensial

1. Konsep dasar pandangan Rollo may tentang perilaku atau kepribadian
Apakah eksistensialisme? Pertama, eksistensi ada sebeum esensi. Eksistensi berarti ada untuk muncul atau untuk menjadi, esensi mengimplikasikan substansi yang statis dan tidak dapat diubah. Eksistensi menggambarkan suatu proses, esensi merujuk pada produk. Eksistensi diasosikan dengan pertumbuhan dan perubahan; esensi mementingkan stagnasi dan sesuatu yang final. Para eksistensialis menegaskan esensi dari manusia adalah kekuatan mereka untuk secara berkesinambungan terus mendefinisikan diri mereka melalui pilihan yang mereka buat. Kedua, eksistensialisme menentang pemisahan antara subjek dan objek. Menurut Kierkegaard, manusia lebih sekadar bagian kecil mesin masyarakat industri, tetapi mereka juga bukan hanya makhluk berpikiran subjektif yang hidup dengan pasif melalui spekulasi dari seorang pengamat. Manusia adalah subjektif dan objektif, serta harus mencari kebenaran dengan hidup dalam kehidupan yang aktif dan autentik. Ketiga, manusia mencari arti kehidupan mereka. keempat, manusia bertanggung jawab atas siapa dirinya dan akan menjadi apa. kita tidak dapat menyalahkan orang tua, guru, majikan, tuhan atau keadaan. Walaupun kita dapat mengasosiasikan diri dengan orang lain dalam hubungan yang produktif dan sehat, tetapi pada akhirnya, masing-masing dari kita tetap sendiri. kelima, para eksistensiali pada dasarnya antiteoretis. Bagi mereka, teori mendehumanisasi manusia lebih jauh dan membuat mereka sebagai objek. Pengalaman autentik lebih diutamakan daripada penjelasan yang dibuat-buat. Saat pengalaman dibentuk menjadi model teori yang sudah ada sebelumnya, mereka akan kehilangan keasliannya dan jadi terpisah dari individu yang mengalaminya (Feist, 2010).
Mengenai pandangan Rollo May atas kemanusiaan, kita berhenti sejenak untuk melihat pada dua konsep dasar dari eksistensialisme, yaitu being-in-the-world dan nonbeing.
Being-in-the-world: Para eksistensialis mengadopsi pendekatan fenomenologis dalam mencoba untuk memahami kemanusiaan. Bagi mereka, kita hadir di dunia yang dapat dimengerti dengan baik dari sudut pandang kita sendiri. Saat ilmuwan mempelajari manusia melalui kerangka rujukan eksternal, mereka melanggar dunia eksistensial seserang maupun subjeknya. Persatuan dasar dari manusia dan lingkungannya diekspresikan dengan sebuah kata dalam bahasa jerman, Dasein, yang berarti untuk hadir disana. Oleh karena itu, Dasein secara harfiah berarti untuk eksis di dunia dan umumnya ditulis sebagai being-in-the-world. Tanda hubung dalam istilah tersebut digunakan untuk mengimplikasikan kesatuan daru subjek dan objek, dari manusia dan dunia (Feist, 2010).
Nonbeing: being-in-the-world  membutuhkan sebuah kesadaran atas diri sebagai makhluk yang hidup dan berkembang. Kesadaran ini kemudian dapar juga berakibat pada ketakutan akan ketiadaan, yaitu nonbeing atau kehampaan. Kematian bukan satu-satunya bentuk nonbeing , tetapi hal tersebut merupakan yang paling jelas. Hidup menjadi lebih hidup, lebih bermakna saat kita menghadapi kemungkinan kematian kita. Selama hampir 40 tahun sebelum waktu kematiannya , May berbicara tentang kematian sebagai "satu fakta dalam hidup saya yang tidak relatif, tetapi absolut, serta kesadaran saya atas hal ini memberikan saya suatu eksistensi dan apa yang saya lakukan setiap jam menjadi kualitas yang absolut. Saat kita tidak dengan berani menghadapi nonbeing  kita dengan mengontemplasikan kematian. Kita tetap saja akan menghadapi nonbeing dalam bentuk lain, termasuk kecanduan terhadap alkohol dan obat-obatan lain, aktivitas seksual yang bebas, serta perilaku kompulsif lainnya. Nonbeing  kita juga dapat diekspresikan sebagai konformitas buta terhadap ekspektasi masyarakat atau sikap bermusuhan yang akan merusak hubungan kita dengan orang lain. Ketakutan atas kematian atau nonbeing, sering memprovokasi kita untuk hidup secara defensif dan menerima lebih sedikit dari kehidupan daripada apa yang kita dapatkan, apabila kita mengonfrontasikan masalah ketiadaan (nonexixtence) kita (Feist, 2010).

2. Unsur-unsur terapi
a. Hambatan pada kesehatan psikologis: Banyak orang menderita kecemasan atau kesedihan yang disebabkan oleh alienasi dari diri mereka atau diri mereka. Selain itu, mereka juga tidak memiliki gambaran yang jelas mengenai diri mereka atau merasa terisolasi dari dunia yang terasa berjarak dan asing. Mereka tidak mempunyai rasa Dasein, tidak ada kesatuan antara diri dan dunia. Saat manusia berjuang untuk mendapatkan kekuasaan dibanding mementingkan alam, mereka mulai kehilangan kontak atas hubungan mereka dengan kehidupan alam. Saat mereka mulai bergantung pada produk-produk dari revolusi industri, mereka menjadi semakin teralienasi dari bintang-bintang, tanah, dan laut (Feist, 2010). 
B. Tujuan terapi: Tidak sepeti Freud, Adler, Rogers, dan pakar teori kepribadian yang berorientasi klinis, May tidak membangun aliran psikoterapi dengan pengikut yang kuat dan teknik yang dapat dibedakan. Ia menyarankan bahwa psikoterapi seharusnya membuat manusia menjadi lebih manusiawi: Membantu mereka memperluas kesadaran mereka supaya mereka akan berada dalam posisi yang lebih baik untuk dapat membuat keputusan. Pilihan-pilihan ini kemudian akan membawa mereka pada pertumbuhan yang terjadi bersamaan atas kebebasan dan rasa tanggung jawab (Feist, 2010).
C. Peran terapis: Tugas terapis eksistensialis adalah untuk menjadi pengarah, teman, dan penerjemah bagi orang-orang dalam perjalanan mereka melalui neraka-neraka privat mereka dan tempat mensucikan diri. Secara spesifik, tugas terapis adalah menolong pasien untuk dapat mencapai titik dimana mereka dapat memutuskan apakah mereka ingin tetap menjadi korban...atau apakah mereka memilih untuk meninggalkan kondisi-korban ini serta menjelajahi tempat mensucikan diri dengan harapan untuk mendapatkan sedikit rasa surga (Feist, 2010).

3. Teknik-teknik terapi
May tidak banyak menawarkan arahan-arahan spesifik untuk diikuti. Terapis eksistensial tidak mempunyai  satu set teknik atau metode khusus yang dapat diaplikasikan kepada semua pasien. Malahan, mereka hanya mempunyai diri mereka dan kemanusiaan mereka untuk ditawarkan. Mereka harus membangun hubungan satu lawan-satu (Mitwelt) yang membuat pasien mampu untuk lebih sadar akan dirinya dan hidup sepenuhnya dalam diri mereka sendiri (Eigenwelt) Pendekatan ini dapat berarti menantang pasien untuk menghadapi takdirnya; untuk merasakan kesedihan, kecemasan, dan rasa bersalah. Akan tetapi, hal tersebut juga berarti membangun pertemuan "saya-anda" (i-thou), yaitu ketika terapis maupun pasien dipandang sebagai subjek dan bukan objek. Di dalam hubungan "saya-anda", terapis memiliki empati atas pengalaman pasien dan terbuka atas dunia subjektif dari pasien. May juga mendeskripsikan terapi adalah sebagian agama, sebagian ilmu pengetahuan, dan sebagian hubungan pertemanan. Akan tetapi, hubungan pertemanan di sini bukanlah suatu hubungan sosial yang biasa, melainkan menuntut terapis untuk menjadi sangat terbuka dan tidak berbasa-basi serta untuk menantang pasien. May yakin bahwa hubungan itu sendiri bersifat terapeutik dan dampak perubahannya tidak berkaitan dengan apa pun yang dikatakan oleh terapis ataupun orientasi teoretisnyang mungkin mereka punya (Feist, 2010). 

1. Konsep dasar pandangan Carl Rogers tentang perilaku atau kepribadian
asumsi-asumsi dasar dari teori yang berpusat pada pribadi, Rogers mengajukan dua asumsi umum, yaitu kecenderungan formatif dan kecenderungan aktualisasi.
Kecenderungan Formatif : Rogers yakin bahwa terdapat kecenderungan dari setiap hal, baik organik maupun non-organik, untuk berevolusi dari bentuk yang sederhana menjadi bentuk yang lebih kompleks. Untuk alam semesta, terjadi sebuah proses kreatif, dan bukan proses disintegrasi. Rogers menyebut proses ini sebagai kecenderungan formatif dan banyak mengambil contoh-contoh dari alam. Sebagai contoh, galaxi bintang yang kompleks terbentuk dari massa yang kurang terorganisasi dengan baik; Kristal seperti bunga es muncul dari uap yang tidak berbentuk; Organisme kompleks berkembang dari sebuah sel; dan kesadaran manusia merupakan evolusi dari ketidaksadaran primitif menjadi kesadaran yang sangat teratur (Feist, 2010).
Kecenderungan aktualisasi : Asumsi yang saling berkaitan dan relevan adalah kecenderungan aktualisasi, atau kecenderungan setiap manusia (selain hewan dan tanaman) untuk bergerak menuju keutuhan atau pemuasan dari potensi. Kecenderungan ini merupakan satu-satunya motif yang dimiliki oleh manusia. Oleh karena itu setiap manusia beroperasi sebagai satu organisme yang utuh, aktualisasi meliputi keseluruhan bagian manusia-fisiologis dan intelektual, rasional dan emosional, kesadaran dan ketidaksadaran.
Kebutuhan untuk menjadi lebih baik, untuk berkembang, dan untuk meraih perubahan disebut sebagai peningkatan diri.
Kebutuhan meningkatkan diri diekspresikan dalam bentuk yang beragam , termasuk rasa peasaran, keriangan, eksplorasi diri, pertemanan, dan kepercayaan diri bahwa seseorang dapat meraih pertumbuhan psikologis. Dalam dirinya, manusia memiliki kekuatan kreatif untuk menyelesaikan masalah, mengubah konsep diri mereka, dan menjadi lebih terarah. Individu mempersepsikan pengalaman mereka sebagai suatu realita, dan mengetahui bahwa realita mereka lebih baik daripada siapa pun. Mereka tidak perlu diarahkan, dikontrol, dinasihati, atau dimanipulasi untuk mendorong mereka menuju aktualisasi (Feist, 2010).

2. Unsur-Unsur Terapi
a. Hambatan pada Kesehatan Psikologis: Tidak semua manusia menjadi manusia yang sehat secara psikologis. Malah, kebanyakan manusia mengalami penghargaan bersyarat; dimana mereka mempersepsikan bahwa orang tua, teman sebaya, atau pasangan mereka mencintai dan menerima mereka hanya apabila mereka dapat memenuhi ekspektasi dan persetujuan dari pihak-pihak tersebut. inkongruensi; inkongruensi antara konsep diri dan pengalaman organismik adalah sumber dari gangguan psikologis. Terkadang kita berperilaku dalam bentuk yang memelihara dan menigkatkan kecenderungan aktualisasi kita, dan pada saat lain, kita dapat bertindak dalam bentuk yang dirancang untuk memelihara dan meningkatkan konsep diri yang berasal dari ekspektasi dan evaluasi orang lain atas diri kita.SIkap defensif; perlndungan atas konsep diri dari kecemasan dan ancaman, dengan penyangkalan atau distorsi dari pengalaman yang tidak konsisten dengan konsep diri. Disorganisasi; dalam kondisi disorganisasi manusia kadang berperilaku secara konsisten dengan pengalaman organismiknya dan kadang sesuai dengan konsep diri yang hancur. Sebagai contoh dari kasus pertama, seorang wanita yang sopan santun, tiba-tiba mulai menggunakan bahasa seksual yang vulgar. Kasus kedua dapat diilustrasikan oleh seorang pria yang, karena konsep dirinya tidak lagi merupakan keseluruhan yang menyatu atau gestalt, mulai berperilaku dalam kebingungan, tidak konsisten, dan tidak dapat diprediksikan. Dalam kedua kasus tersebut, perilaku masih konsisten dengan konsep diri, namun konsep dirinya telah dirusak sehingga perilaku yang terlihat cenderung aneh dan membingungkan (Feist, 2010).
b. Tujuan Terapi: Mendorong serta membimbing klien untuk berfungsi sepenuhnya, menjadi baru dan unik, melihat pengalaman dengan semangat baru, membuatnya terus menjadi muda dalam pemikiran dan semangat, tanpa ada prasangka mengenai bagaimana seharusnya dunia ini, merasakan hubungan yang harmonis dengan orang lain, lebih terintegrasi, peduli pada orang lain, terbuka pada pengalaman, dan hasilnya mereka akan dapat merasakan sesuatu lebih dalam daripada orang lain (Feist, 2010).
c. Peran Terapis: Terapis harus memperlihatkan sikap kongruen kepada klien dan memberikan penerimaan tidak bersyarat serta empati yang akurat. Jika terapisnya kongruen serta dapat mengkomunikasikan penerimaan positif yang tidak bersyarat dan empati yang akurat kepada klien, maka perubaha terapeutik akan terjadi; jika perubahan terapeutik terjadi terjadi, maka klien akan mengalami penerimaan diri yang lebih besar, lebih percaya pada dirinya sendiri, dan lain-lain (Feist, 2010). 

3. Teknik-teknik Terapi 
a. Kongruensi Konselor: Kongruensi terjadi apabila pengalaman organismik seseorang sejalan dengan kesadaran atas pengalaman tersebut, serta dengan kemampuan dan keinginan untuk secara terbuka mengekspresikan perasaan-perasaan tersebut (Rogers dalam Feist, 2010). Untuk menjadi kongruen adalah untuk menjadi nyata atau jujur, untuk menjadi utuh atau terintegrasi, untuk menjadi apa adanya (Feist, 2010). 
b. Penerimaan Positif Tidak bersyarat: Penghargaan positif adalah kebutuhan untuk disukai, diharga, dan diterima oleh orang lain. Saat kebutuhan ini muncul tanpa adanya syarat atau kualifikasi, maka muncullah penerimaan positif yang tidak bersyarat. Terapis mempunyai penerimaan positif yang tidak bersyarat saat mereka "mengalami sikap yang hangat, positif, dan menerima kepada apa yang menjadi kliennya". (Rogers dalam Feist, 2010) Sikap ini tidak bersifat posesif, tidak evaluatif, dan tanpa keraguan (Feist, 2010).
c. Mendengarkan secara empati: Kondisi perlu dan memadai ketiga dalam pertumbuhan psikologis adalah mendengarkan secara empati. Empati hadir saat terapis secara akurat dapat merasakan perasaan dari klien mereka dan dapat mengkomunikasikan persepsi ini, supaya klien mengetahui bahwa orang lain telah memasuki dunia perasaan tanpa prasangka, proyeksi, ataupun evaluasi (Feist, 2010).

Logotherapi

1. Konsep dasar pandangan Viktor Frankl tentang perilaku atau kepribadian
Pandangan Frankl tentang kesehatan psikologis menekankan pentingnya kemauan dan arti. Logoterepi berasal dari kata "logos" yang diambil dari bahasa yunani yang diterjemahkan dalam kata "arti" (meaning). kemudian logoterapi berbicara tentang arti dari eksistensi manusia dan kebutuhan manusia akan arti, dan juga teknik-teknik terapeutis khusus untuk menemukan arti dalam kehidupan. Fradapnkl sangant menentang pendirian-pendirian dalam psikologi dan psikiatri yang memberi ciri kepada kondisi manusia sebagai yang ditentukan oleh insting-insting biologis atau sesuatu kekuatan lain dari luar. Dia mengemukakan bahwa meskipun kita tunduk kepada kondisi-kondisi dari luar yang mempengaruhi kehidupan kita, namun kita bebas memilih reaksi kita terhadap kondisi-kondisi ini. Tiang-tiang lain-kemauan akan arti akan kehidupan-adalah kebutuhan kita yang terus menerus mencari bukan diri kita-melainkan suatu arti untuk memberi suatu maksud bagi eksistensialis kita. Semakin kita mampu mengatasi diri kita-memberi diri kita kepada suatu tujuan atau kepada seseorang-semakin kita menjadi manusia sepenuhnya. Ini menjadi kriterium yang terakhir untuk perkembangan kepribadian yang sehat. Kita terbenam dalam seseorang atau suatu hal yang melampaui diri kita. Hanya ada dalam cara ini kita benar-benar menjadi diri kita. Arti yang kita cari memerlukan tanggung jawab pribadi. TIdak ada orang atau sesuatu yang lain-bukan orang tua, partner, atau bangsa-dapat memberi kita pengertian tentang arti dan maksud dalam kehidupan kita. Tanggung jawab kitalah untuk menemukan cara kita sendiri dan tetap bertahan didalamnya segera setelah ditemukan. Seperti yang telah dilakukan Frankl sendiri, kita harus menghadapi kondisi-kondisi eksistensi kita secara bertanggung jawab dan bebas dan menemukan dalam kondisi-kondisi itu suatu maksud. Kehidupan terus-menerus menantang kita dan respon kita tidak dapat dilakukan dengan berbicara atau berkontemplasi, melainkan dengan perbuatan-perbuatan, yang mengungkapkan dengan jelas arti yang kita peroleh dalam kehidupan kita (Schultz, 1991).


2. Unsur-unsur Terapi
a. Hambatan pada kesehatan psikologis: Bagi Frankl kekurangan arti dalam kehidupan merupakan suatu neurosis; dia menyebut kondisi ini "noogenic neurosis". Inilah suatu keadaan yang bercirikan tanpa arti, tanpa maksud, tanpa tujuan, dan hampa. Frankl menulis tentang kawan-kawan setahanannya, "celakalah dia yang tidak lagi melihat arti dalam kehidupannya, tidak lagi melihat tujuan, tidak lagi melihat maksud, dan karena ia tidak ada sesuatu yang dibawa serta dia segera kehilangan". Karena tidak merasa kehidupan yang penuh dan gairah, maka orang semacam ini berbeda dalam kekosongan eksistensialis (eksistential vacuum), suatu kondisi yang menurut keyakinan Frankl adalah lumrah dalam zaman kita yang modern (Schultz, 1991).  
b. Tujuan terapi: Membantu klien yang kehilangan semangat hidup untuk memperoleh kembali makna hidupnya dengan meletakkan penderitanya dalam konteks spiritual dan filosofis yang lebih besar. Individu bertanggung jawab atas eksistensinya dan untuk berupaya memperoleh kehidupan yang bermakna (Davison, 2014). 
C. Peran terapis: Meyakinkan serta membimbing klien bahwa setiap manusia memiliki pilihan-pilihan bebas untuk menentukan kehidupan mereka sendiri dengan perbuatan-perbuatan ke arah yang lebih baik dan penuh makna.  

3. Teknik Terapi
a. intensi paradoxial: Dalam kasus-kasus fobia, teknik paradoxial intention ini berusaha mengubah sikap penderita yang semula serba takut menjadi akrab dengan obyek yang justru ditakutinya. sedangkan pada kasus-kasus obsesi dan kompulsi, yang biasanya penderita menahan dan mengendalikan secara ketat dorongan-dorongannya agar tidak muncul, penderita justru diminta untuk secara sengaja mengharapkan (bahkan memacu) agar dorongan-dorongannya itu benar-benar mencetus. usaha ini benar-benar sulit dilaksanakan apabila tidak dilakukan secara humoris, dalam arti menimbulkan perasaan humor pada penderita dan memandang keluhannya sendiri secara jenaka atau secara ironis. Pemanfaatan rasa humor dalam terapi berarti membantu penderita untuk memandang gangguan-gangguannya tidak lagi sebagai sesuatu yang mencemaskan, tetapi sebagai sesuatu yang lucu (Bastaman, 1996: 36).
B. Derefleksi logoterapi: mengenal istilah lain yaitu perhatian yang berlebihan (exessive attention), atau hyper refleksi (hyper reflection) yang bisa bersifat patogenis (bisa menjadi penyebab timbulnya penyakit). Seorang wanita datang ke tempat Frankl dengan keluhan frigid. Sejarah masa lalunya menunjukkan bahwa saat kanak-kanak wanita ini mengalami penganiayaan seksual oleh ayahnya sendiri dan juga karena membaca literatur modern tentang psikoanalisis, wanita tersebut terus dibayangi ketakutan, bahwa suatu hari pengalamannya yang traumatis akan membawa akibat. Rasa takut yang diantisipasi ini memicu tumbuhnya keinginan berlebiha untuk menonjolkan kewanitaannya dan perhatian yang berlebihan terhadap dirinya, bukan terhadap pasangannya. Semua alasan ini cukup membuatnya tidak mampu merasakan puncak kenikmatan seksual, karena orgasme sudah dijadikan objek keinginan dan perhatian, bukan sebagai dampak samping dari sebuah dedikasi dan penyerahan spontan kepada pasangannya. Setelah menjalani logoterapi jangka pendek, perhatian dan keinginan berlebihan si pasien yang terkait dengan kemampuannya untuk merasakan orgasme berhasil dihilangkan atau di-derefleksikan. Ketika perhatiannya dialihkan terhadap objek yang layak, yaitu pasangannya, wanita itu berhasil mencapai orgasme secara spontan (Frankl, 2004: 191-192).
C. Bimbingan ruhani: (Medical ministry) Medical ministry merupakan salah satu metode logoterapi yang mula-mula banyak diterapkan dalam dunia medis, khususnya untuk kasus-kasus somatogenik. Tetapi dalam perkembangan selanjutnya prinsip-prinsip medical ministry diamalkan juga oleh profesi lain dalam kasus-kasus tragis non-medis yang tak dapat dihindari lagi. Pendekatan ini memanfaatkan kemampuan insani untuk mengambil sikap (to take a stand) terhadap keadaan diri sendiri dan keadaan lingkungan yang tak mungkin diubah lagi (Bastaman, 1996: 40).

Sumber:
Feist, J & Feist,G. J. (2010). Teori kepribadian (7ed). Jakarta: Salemba Humanika.
Davison, G. C., Neale, J. M., & Kring, A. M. (2014). Psikologi abnormal (9ed). Jakarta: Rajawali Pers.
http://library.walisongo.ac.id/digilib/files/disk1/12/jtptiain-gdl-s1-2005-bakhtiyarz-565-Bab3_110-2.pdf 

Kamis, 31 Desember 2015

Komunikasi Dalam Manajemen

I. Komunikasi Dalam Manajemen
A. Definisi Komunikasi
Istilah komunikasi berasal dari kata Latin Communicare atau Communis yang berarti sama atau menjadikan milik bersama. Kalau kita berkomunikasi dengan orang lain, berarti kita berusaha agar apa yang disampaikan kepada orang lain tersebut menjadi miliknya.
Beberapa definisi komunikasi adalah:
a. Komunikasi adalah kegiatan pengoperan lambang yang mengandung arti atau makna yang perlu dipahami bersama oleh pihak yang terlibat dalam kegiatan komunikasi (Astrid).
b. Komunikasi adalah kegiatan perilaku atau kegiatan penyampaian pesan atau informasi tentang pikiran atau perasaan (Roben.J.G).
c. Komunikasi adalah sebagai pemindahan informasi dan pengertian dari satu orang ke orang lain (Davis, 1981).
d. Komunikasi adalah berusaha untuk mengadakan persamaan dengan orang lain (Schram,W)
e. Komunikasi adalah penyampaian dan memahami pesan dari satu orang kepada orang lain, komunikasi merupakan proses sosial (Modul PRT, Lembaga Administrasi).

B. Proses Komunikasi
Komunikasi merupakan suatu proses yang mempunyai kompenen dasar sebagai berikut:
a. Pengirim pesan
b. Penerima pesan
c. Pesan
Semua manajer melibatkan proses komunikasi. Proses komunikasi dapat dilihat pada skema dibawah ini:
Diagram 1 : Proses Komunikasi
a. Pengirim pesan (sender) dan isi pesan/materi
Pengirim pesan adalah orang yang mempunyai ide untuk disampaikan kepada seseorang dengan harapan dapat dipahami oleh orang yang menerima pesan sesuai dengan yang dimaksudkannya. Pesan adalah informasi yang akan disampaikan atau diekspresikan oleh pengirim pesan. Pesan dapat verbal atau non verbal dan pesan akan efektif bila diorganisir secara baik dan jelas.
Materi pesan dapat berupa :
- Informasi
- Ajakan
- Rencana kerja
- Pertanyaan dan sebagainya
- Simbol atau Isyarat
Pada tahap ini pengirim pesan membuat kode atau simbol sehingga pesannya dapat dipahami oleh orang lain. Biasanya seorang manajer menyampaikan pesan dalam bentuk kata-kata, gerakan anggota badan, (tangan, kepala, mata dan bagian muka lainnya). Tujuan penyampaian pesan adalah untuk mengajak, membujuk, mengubah sikap, perilaku atau menunjukkan arah tertentu.
- Media atau Penghubung
Adalah alat untuk penyampaian pesan seperti ; TV, radio surat kabar, papan pengumuman, telepon dan lainnya. Pemilihan media ini dapat dipengaruhi oleh isi pesan yang akan disampaikan, jumlah penerima pesan, situasi dan sebagainya.
- Mengartikan kode atau Isyarat
Setelah pesan diterima melalui indera (telinga, mata dan seterusnya) maka si penerima pesan harus dapat mengartikan simbul/kode dari pesan tersebut, sehingga dapat dimengerti atau dipahaminya.
b. Penerima Pesan
Penerima pesan adalah orang yang dapat memahami pesan dari sipengirim meskipun dalam bentuk code/isyarat tanpa mengurangi arti pesan yang dimaksud oleh pengirim.
- Balikan (feedback)
Balikan adalah isyarat atau tanggapan yang berisi kesan dari penerima pesan dalam bentuk verbal maupun nonverbal. Tanpa balikan seorang pengirim pesan tidak akan tahu dampak pesannya terhadap sipenerima pesan Hal ini penting bagi manajer atau pengirim pesan untuk mengetahui apakah pesan sudah diterima dengan pemahaman yang benar dan tepat. Balikan dapat disampaikan oleh penerima pesan atau orang lain yang bukan penerima pesan. Balikan yang disampaikan oleh penerima pesan pada umumnya merupakan balikan langsung yang mengandung pemahaman atas pesan tersebut dan sekaligus merupakan apakah pesan itu akan dilaksanakan atau tidak.
Balikan yang diberikan oleh orang lain didapat dari pengamatan pemberi balikan terhadap perilaku maupun ucapan penerima pesan. Pemberi balikan menggambarkan perilaku penerima pesan sebagai reaksi dari pesan yang diterimanya. Balikan bermanfaat untuk memberikan informasi, saran yang dapat menjadi bahan pertimbangan dan membantu untuk menumbuhkan kepercayaan serta keterbukaan diantara komunikan, juga balikan dapat memperjelas persepsi.
- Gangguan
Gangguan bukan merupakan bagian dari proses komunikasi akan tetapi mempunyai pengaruh dalam proses komunikasi, karena pada setiap situasi hampir selalu ada hal yang mengganggu kita. Gangguan adalah hal yang merintangi atau menghambat komunikasi sehingga penerima salah menafsirkan pesan yang diterimanya.

3. Hambatan Komunikasi
a. Hambatan dari Proses Komunikasi
Hambatan dari pengirim pesan, misalnya pesan yang akan disampaikan belum jelas bagi dirinya atau pengirim pesan, hal ini dipengaruhi oleh perasaan atau situasi emosional.
Hambatan dalam penyandian atau simbol. Hal ini dapat terjadi karena bahasa yang dipergunakan tidak jelas sehingga mempunyai arti lebih dari satu, simbol yang dipergunakan antara si pengirim dan penerima tidak sama atau bahasa yang dipergunakan terlalu sulit.
Hambatan media, adalah hambatan yang terjadi dalam penggunaan media komunikasi, misalnya gangguan suara radio dan aliran listrik sehingga tidak dapat mendengarkan pesan.
Hambatan dalam bahasa sandi. Hambatan terjadi dalam menafsirkan sandi oleh si penerima
Hambatan dari penerima pesan, misalnya kurangnya perhatian pada saat menerima atau mendengarkan pesan, sikap prasangka tanggapan yang keliru dan tidak mencari informasi lebih lanjut.
Hambatan dalam memberikan balikan. Balikan yang diberikan tidak menggambarkan apa adanya akan tetapi memberikan interpretatif, tidak tepat waktu atau tidak jelas dan sebagainya.
b. Hambatan Fisik
Hambatan fisik dapat mengganggu komunikasi yang efektif, cuaca gangguan alat komunikasi, dan lain lain, misalnya: gangguan kesehatan, gangguan alat komunikasi dan sebagainya.
c. Hambatan Semantik.
Kata-kata yang dipergunakan dalam komunikasi kadang-kadang mempunyai arti mendua yang berbeda, tidak jelas atau berbelit-belit antara pemberi pesan dan penerima
d. Hambatan Psikologis
Hambatan psikologis dan sosial kadang-kadang mengganggu komunikasi, misalnya; perbedaan nilai-nilai serta harapan yang berbeda antara pengirim dan penerima pesan.

II. Definisi Komunikasi Interpersonal yang Efektif
Komunikasi interpersonal efektif dalam organisasi mencakup componential & situational, yaitu :
Komunikasi dalam organisasi atau perusahaan dapat menentukan efektif atau tidaknya dalam suatu penyampaian pesan atau perintah antar anggota organisasi, baik antara atasan dengan bawahan (downward communication), bawahan dengan atasan (upward communication), maupun antar anggota yang jabatannya setaraf (lateral communication). Secara sederhana, komunikasi adalah proses penyampaian atau transfer dan pemahaman suatu pengertian (meaning). Jadi dalam berkomunikasi, kita harus efektif menyampaikan pesan yang ada pada kita kepada orang lain. Adapun berkomunikasi secara langsung dan sesuai dengan pesan yang ingin disampaikan kepada orang lain. Karena dapat mengubah sikap, pendapat dan perilaku seseorang dengan efek umpan balik secara langsung. Proses berkomunikasi dimulai dari adanya pesan yang akan disampaikan oleh pengirim, kemudian ditransfer melalui suatu channel (saluran), kemudian diterima oleh penerima. Adapun komunikasi interpersonal efektif dalam suatu organisasi mencakup dua bagian yaitu componential dan situational.
1. Componential
Menjelaskan komunikasi antar pribadi dengan mengamati komponen-komponen utamanya, dalam hal ini adalah penyampaian pesan oleh satu orang dan penerimaan pesan oleh orang lain dengan berbagai dampaknya dan dengan peluang untuk memberikan umpan balik dengan segera.
2. Situasional
Interaksi tatap muka antara dua orang dengan potensi umpan balik langsung dengan situasi yang mendukung disekitarnya.

III. Model Pengolahan Informasi
Model Pengolahan Informasi pada dasarnya menitikberatkan dorongan-dorongan internal (datang dari dalam diri) manusia untuk memahami dunia dengan cara menggali dan mengorganisasikan data, merasakan adanya masalah dan mengupayakan jalan pemecahannya, serta mengembangkan bahasa untuk mengungkapkannya
Model pengolahan informasi dibawah ini ada 4 yaitu:
1.      Rational
Proses informasi adalah proses menerima, menyimpan dan mengungkap kembali informasi. Dalam proses pembelajaran, proses menerima informasi terjadi pada saat siswa menerima pelajaran. Proses menyimpan informasi terjadi pada saat siswa harus menghafal, memahami, dan mencerna pelajaran. Sedangkan proses mengungkap kembali informasi terjadi pada saat siswa menempuh ujian atau pada saat siswa harus menerapkan pengetahuan yang telah dimilikinya untuk memecahkan masalah yang dihadapi dalam kehidupan sehari-hari. Selain itu perlu dikemukakan bahwa informasi masuk ke dalam kesadaran manusia melalui pancaindera, yaitu indera pendengaran, penglihaan, penciuman, perabaan, dan pengecapan. Informasi masuk ke kesadaran manusia paling banyak melalui indera pendengaran dan penglihatan. Berdasarkan alas an tersebut , maka media yang banyak digunakan adalah media audio, media visual, dan media audiovisual (gabungan media audio dan visual). Belakangan berkembang konsep multimedia, yaitu penggunaan secara serentak lebih daripada satu media dalam proses komunikasi, informasi dan pembelajaran. Konsep multimedia diasarkan atas pertimbangan bahwa penggunaan lebih dari pada satu media yang menyentuh banyak indera akan membuat proses komunikasi termasuk proses pembelajaran lebih efektif.
Dalam proses komunikasi atau proses informasi (dan juga proses pembelajaran) sering dijumpai masalah atau kesulitan. Beberapa masalah dalam proses komunikasi, misalnya:
Ditinjau dari pihak siswa: Kesulitan bahasa, sukar menghafal, terjadi distorsi atau ketidakjelasan, gangguan pancaindera, sulit mengungkap kembali, sulit menerima pelajaran, tidak tertarik terhadap materi yang dipelajari, dsb. Di tinjau dari pendidik, misalnya pendidik tidak mahir mengemas dan menyajikan materi pelajaran, faktor kelelahan, ketidak ajegan, dsb. Ditinjau dari pesan atau materi yang disampaiakan, misalnya: materi berada jauh dari tempat siswa, materi terlau kecil, abstrak, terlalu besar, berbahaya kalau disentuh.
2.      Limited capacity
3.       Expert
4.       Cybernetic

IV. Model Interaktif Management dalam Komunikasi
1.      Confidence

Dalam manajemen timbulnya suatu interaksi karena adanya rasa nyaman. Kenyamanan tersebut dapat membuat suatu organisasi bertahan lama dan menimbulkan suatu kepercayaan dan pengertian.

2.      Immediacy

Ini adalah model organisasi yang membuat suatu organisasi tersebut menjadi segar dan tidak membosankan

3.      Interaction management

Adanya berbagai interaksi dalam manajemen seperti mendengarkan dan juga menjelaskan kepada berbagai pihak yang bersangkutan

4.      Expressiveness

Mengembangkan suatu komitmen dalam suatu organisasi dengan berbagai macam ekspresi perilaku.

5.      Other-orientation

Sumber :

https://ajengjiwapangestu.wordpress.com/2014/01/15/komunikasi-dalam-manajemen/

http://amenaalatas.blogspot.co.id/2015/01/komunikasi-interpersonal-efektif.html

Minggu, 22 November 2015

Mengendalikan fungsi manajemen serta kekuasaandan pengaruh

1. Mengendalikan fungsi manajemen

Pengertian Controlling (mengendalikan)
Pengendalian manajemen adalah semua usaha perusahaan yang mencakup metode, prosedur dan strategi perusahaan yang mengacu pada efisiensi dan efektivitas operasional perusahaa, agar dipatuhinya kebijakan manajemen serta tercapainya tujuan perusahaan.

Langkah-langkah controlling
- Menentukan standar-standar yang akan digunakan menjadi dasar pengendalian
- Mengukur pelaksanaan atau hasil yang telah dicapai
- Membandingkan pelaksanaan atau hasil dengan standar dan menentukan penyimpangan bila ada
- Melakukan tindakan perbaikan, jika terdapat penyimpangan agar pelaksanaan dan tujuan sesuai
   dengan rencana

Tipe-tipe controlling dalam manajemen
a) Pengendalian dari dalam organisasi (kontrol internal) :
    Pengendalian yang dilakukan oleh aparat atau unit pengendalian yang dibentuk dari dalam
    organisasi itu sendiri (dalam satu atap). Aparat atau unit pengendalian ini bertugas
    mengumpulkan data dan informasi yang diperlukan oleh pimpinan untuk melihat dan menilai
    kemajuan atau kemunduran dalam pelaksanaan pekerjaan. selain itu pimpinan dapat mengambil
    suatu tindakan korektif terhadap hasil pelaksanaan pekerjaan yang dilakukan oleh bawahannya
    (internal control), misalnya unit kerja Inspektorat Jenderal sebagai unit pengawasan di tingkat
     departemen.

b) Pengendalian luar organisasi (kontrol eksternal) :
    Pengendalian yang dilakukan oleh aparat atau unit Pengendalian dari luar organisasi terhadap
    departemen atas nama pemerintah. Selain itu pengawasan dapat pula dilakukan oleh pihak luar
    yang ditunjuk oleh suatu organisasi untuk minta bantuan pemeriksaan terhadap organisasinya.
    Misalnya Konsultan pengawas, Akuntan swasta dan sebagainya.

c) Pengendalian preventif :
    Pengendalian yang dilakukan sebelum rencana itu dilaksanakan. maksud pengendalian preventif
    adalah untuk mencegah terjadinya kekeliruan atau kesalahan.

d) Pengendalian represif :
    Pengendalian yang dilakukan setelah adanya pelaksanaan pekerjaan. Maksud dilakukannya
    pengendalian represif adalah untuk menjamin kelangsungan pelaksanaan pekerjaanagar hasilnya
    tidak menyimpang dari yang telah direncanakan (dalam pengendalian anggaran disebut post-
    audit).

Membuat strategi Controlling untuk organisasi
Menurut Kadarman (2001, hal.161) langkah-langkah proses pengawasan yaitu:
1. Menetapkan standar
Karena perencanaan merupakan tolak ukur merancang pengawasa, maka secara logis hal ini berarti bahwa langkah pertama dalam proses pengawasan adalah menyusun rencana. Perencanaan yang dimaksud disini adalah menentukan standar.
2. Mengukur kinerja
Langkah kedua dalam pengawasan adalah mengukur atau mengevaluasi kinerja yang dicapai terhadap standar yang telah ditentukan.
3. Memperbaiki penyimpangan
Proses pengawasan tidak lengkap jika tidak ada tindakan perbaikan terhadap penyimpangan-penyimpangan yang terjadi.

2. Kekuasaan dan pengaruh

Kekuasaan
Pengertian kekuasaan: Kemampuan untuk menggunakan pengaruh pada orang lain; artinya kemampuan untuk mengubah sikap atau tingkah laku individu atau kelompok. Kekuasaan juga berarti kemampuan untuk mempengaruhi individu, kelompok, keputusan, atau kejadian.

Sumber-sumber kekuasaan
Kekuasaan tidak begitu saja diperoleh individu, ada 5 sumber kekuasaan menurut John Brench
   dan Bentram Raven, yaitu :

1. Kekuasaan menghargai (reward power) : kekuasaan yang didasarkan pada kemampuan seseorang
    pemberi pengaruh untuk memberi penghargaan pada orang lain yang dipengaruhi untuk
    melaksanakan perintah (bonus sampai senioritas atau persahabatan).

2.Kekuasaan memaksa (coercive power) : kekuasaan berdasarkan pada kemampuan orang untuk
   menghukum orang yang dipengaruhi kalau tidak memenuhi perintah atau persyaratan (teguran
   sampai hukuman).

3. Kekuasaan sah (legitimate power) : Kekuasaan formal yang diperoleh berdasarkan hukum atau
    aturan yang timbul dari pengakuan seseorang yang dipengaruhi bahwa pemberi pengaruh berhak
    menggunakan pengaruh sampai pada batas tertentu.

4.Kekuasaan keahlian (expert power) : Kekuasaan yang didasarkan pada persepsi atau keyakinan
   bahwa pemberi pengaruh mempunyai keahlian relevan atau pengetahuan khusus yang tidak
   dimiliki oleh orang yang dipengaruhi (professional atau tenaga ahli).

5.Kekuasaan rujukan (referent power) : Kekuasaan yang dimiliki oleh seseorang atau kelompok
   yang didasarkan pada identifikasi pemberi pengaruh yang menjadi contoh atau panutan bagi yang
   dipengaruhi (kharisma, keberanian, simpatik dan lain-lain).

Pengaruh
Pengaruh Sebagai esensi dari kepemimpinan, pengaruh diperlukan untuk menyampaikan gagasan, mendapatkan penerimaan dari kebijakan atau rencana dan untuk memotivasi orang lain agar mendukung dan melaksanakan berbagai keputusan.

Pengaruh taktik dalam organisasi
Taktik-taktik mempengaruhi (influence tactics) adalah cara-cara yang biasanya digunakan oleh
seseorang untuk mempengaruhi orang lain, baik orang yang merupakan atasan, setingkat, atau
bawahannya. dengan mengetahui dan menggunakan hal ini, maka seseorang dapat mempengaruhi
dan menggunakan hal ini, maka seseorang dapat mempengaruhi orang lain, dengan tidak
menggunakan kekuasaan yang dimilikinya.
Kipnis dan Schmidt adalah peneliti yang pertama kali meneliti taktik-taktik yang biasa digunakan
orang untuk mempengaruhi orang lain. (Kipnis dan Schmidt, 1982). berbagai alat ukur telah dibuat
untuk meneliti taktik mempengaruhi dan salah satu yang yang terbaik adalah yang dibuat oleh
Yuki dkk, yaitu yang disebut influence Behavior Questionnaire (Yuki, Lespinger, and lucia, 1992).
Hasil penelitian Yuki dkk, menunjukan ada sembilan jenis taktik yang biasa digunakan di dalam
organisasi (Hugheset all, 2009), yaitu :
1. Persuasi Rasional (Rational Persuasion), terjadi jika seseorang mempengaruhi orang lain
     dengan
     menggunakan alasan yang logis dan bukti-bukti nyata agar orang lain tertarik.
2. Daya-tarik inspirasional (Inspirational Appeals), terjadi jika seseorang mempengaruhi orang
     lain
     dengan menggunakan suatu permintaan atau proposal untuk membangkitkan antusiasme atau
     gairah pada orang lain.
3. Konsultasi (Konsultation), terjadi jika seseorang mempengaruhi orang lain dengan mengajak dan
     melibatkan orang yang dijadikan terget untuk berpartisipasi dalam pembuatan suatu rencana yang
     akan dilaksanakan.
4. Mengucapkan kata-kata manis (Ingratiation), terjadi jika seseorang yang mempengaruhi orang
     lain dengan menggunakan kata-kata yang membahagiakan.
5. Daya-tarik Pribadi (Personal Appeals), terjadi jika seseorang mempengaruhi orang lain atau 
     memintanya untuk melakukan sesuatu karena merupakan teman atau karena dianggap loyal.
6. Pertukaran (Exchage), terjadi jika seseorang mempengaruhi orang lain dengan memberikan 
     sesuatu keuntungan tertentu kepada orang yang dijadikan target, sebagai imbalan atas kemauannya
     mengikuti suatu permintaan tertentu.
7. Koalisi (coalition), terjadi jika seseorang meminta bantuan dan dukungan dari orang lain untuk 
     membujuk agar orang yang dijadikan target setuju.
8.  Tekanan (Pressure), terjadi jika seseorang mempengaruhi orang lain dengan menggunakan 
      ancaman, peringatan, atau permintaan yang berulang-ulang dalam meminta sesuatu.
9. Mengesahkan (Legitimacy), terjadi jika seseorang mempengaruhi orang lain dengan 
     menggunakan jabatannya, kekuasaannya, atau dengan mengatakan bahwa suatu permintaan adalah
     sesuai dengan kebijakan atau aturan organisasi.

Sumber :

http://skirpsitesisdisertasi.com/pengertian_pengendalian_manajemen

http://tugaskuliahku09.blogspot.co.id/2014/02/makalah-controlling-dalam-manajemen.html

http://cynthiakjh.blogspot.co.id/2013/11/kekuasaan-dan-pengaruh.html

http://nonvivit.blogspot.co.id/2013/10/definisi-kekuasaan-sumber-kekuasaan-dan.html

http://prismamika.blogspot.co.id/2012/04/084-5-sumber-kekuasaan.html

https://hestuningikrarini.wordpress.com/2014/12/02/definisi-controlling-dan-langkah-langkah-dalam-kontrol/

http://chorunnisawijayanti.blogspot.co.id/2013/11/kekuasaan-dan-pengaruh-dalam-manajemen.html